Jumat, 03 Juni 2011

Berjalan Di Tengah Kegelapan

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 122)


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata mengenai tafsiran ayat ini, “Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.” (al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 35)

Orang-orang yang beriman, mendapat anugerah bimbingan dari Allah untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir yang jelas-jelas menentang ayat-ayat-Nya dan berpaling dari petunjuk Rabbnya, maka ‘pembimbing’ mereka adalah thoghut, yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju gelap gulita. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.” (QS. al-Baqarah: 257)

Begitu pula orang-orang munafik, yang sengaja meninggalkan kebenaran dan mencampakkannya, maka Allah ta’ala membiarkan mereka berjalan di atas kegelapan yang mereka pilih atas kehendak hawa nafsunya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Perumpamaan mereka -orang munafik- seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.” (QS. al-Baqarah: 17-18)

al-Hafizh Ibnu Katsir menukil riwayat dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengenai tafsiran dari ayat ini. Beliau berkata, “Ini adalah sifat orang-orang munafik. Dahulu mereka beriman sehingga iman itu menyinari hati mereka sebagaimana api yang menyinari orang-orang yang menyalakan api. Kemudian mereka justru kufur maka Allah pun menghilangkan cahaya yang menyinari mereka dan mencabutnya sebagaimana lenyapnya cahaya dari api tersebut sehingga Allah membiarkan mereka berada dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (Tafsir al-Qur’an al-Azhim [1/67])

Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur’an dan cahaya iman. Yang keduanya telah dipadukan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.” (QS. asy-Syura: 52)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.” (al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 38)

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan antara kemuliaan dan kejayaan suatu kaum dengan komitmen mereka terhadap ajaran al-Qur’an. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian kaum dengan sebab Kitab ini, dan akan menghinakan sebagian yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim)

Sebagaimana Allah ta’ala menjadikan iman dan ilmu sebagai sebab pengangkatan derajat sebagian dari hamba-hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadilah: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengaitkan antara kebaikan seseorang dengan kepahamannya terhadap al-Qur’an dan komitmennya untuk mendakwahkannya. Beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Dengan bahasa lain, kepahaman terhadap agama itulah yang akan menggiring manusia menuju kesuksesan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka niscaya akan dipahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di sisi lain, Allah ta’ala juga mengaitkan antara kekuatan iman yang ada dalam hati seseorang dengan perhatiannya yang serius terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka…” (QS. al-Anfaal: 2)

Sementara, kaum Khawarij -meskipun mereka pandai membaca al-Qur’an- namun dicela oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -bahkan disebut sebagai Syarrul khalqi wal khaliqah/sejelek-jelek manusia- akibat bacaan mereka tidak diiringi dengan kepahaman hati dan tidak bisa memetik pelajaran yang semestinya dari apa yang mereka baca -sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat/salafus shalih-. Beliau bersabda, “Mereka itu -yaitu Khawarij- pandai membaca al-Qur’an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). an-Nawawi rahimahullah mengutip salah satu penafsiran hadits ini bahwa maksudnya adalah, “…Maknanya hati mereka tidak memahaminya dan mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang mereka baca…” (Syarh Muslim [4/349])
Dari sinilah, kita dapat menarik pelajaran bahwa untuk membebaskan diri dari kegelapan seorang hamba harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu untuk menghidupkan hati yang telah mati dan gersang menjadi hati yang hidup dan subur dengan keimanan. Sementara harapan itu tidak akan terwujud kecuali dengan cara mentadabburi al-Qur’an dan memahaminya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Betapa indah ucapan al-Imam Nashir as-Sunnah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah dalam Lum’at al-I’tiqad-nya, “Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sesuai dengan keinginan Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang datang dari Rasulullah sesuai dengan keinginan Rasulullah.” 

Dan hal itu tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali jika dilandaskan pada kepasrahan total terhadap dalil-dalil syari’at yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga tidak ada jalan keluar dari kegelapan yang meliputi langit kehidupan kita kecuali dengan kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih.

 sumber : http://abumushlih.com/
♥ THANKS FOR READING. DON'T FORGET TO COMMENT .. ♥

Read More..

Kamis, 02 Juni 2011

jogja dalam sehari

tanggal 31 mei 2011, selasa siang, pukul 1, aku dan bapak pergi ke terminal bus. kami ke terminal naik angkota. dan kami berangkat ke jogja pukul 13.00 WIB. pemandangan di sepanjang perjalanan sungguh indah. sawah terbentang luas, kehidupan masyarakat indonesia yang sederhana, dan berbagai pemandangan yang lain. selama perjalanan ke jogja, aku melihat-lihat pemandangan diluar bus melalui kaca bus. terkadang aku juga tidur karena sudah mulai mengantuk dan bosan. aku juga ditemani sms-sms dari sahabat dan temanku. perjalanan dari Madiun ke Jogja sekitar 5 jam. berbagai pengalaman aku alami di dalm bus Mira, ada pengamen, penjual makanan-minuman-barang2 lain, dan dua kali bus kami hampir mengalami musibah (dua kali dari arah berlawanan ada bus yang melaju kencang-hampir menyentuh bus kami-).

sekitar pukul 6 malam, aku sampai di terminal jogja dan kami turun disana. setelah turun dari bus, kami langsung diberondong oleh orang-orang yang menawarkan jasa. sebenarnya aku tidak nyaman dengan perlakuan itu. tapi mau bagaimana lagi. begitulah kehidupan di terminal. apalagi menjelang malam hari, kehidupan di terminal lebih keras. alhamdulillah akmi berhasil menghindar dari mereka. kami menuju ke mushola di terminal itu. setelah ke kamar kecil, bapak sholat dulu dan aku menunggu diluar sambil menjaga barang bawaan kami. setelah selesai sholat, bapak menelpon keponakannya. dan ternyata dia baru mandi. kami harus menunggu jemputan lebih lama. alhamdulillah dia mandinya tidak lama dan segera menjemput kami. namun ya tidak mudah untuk bertemu di terminal. tapi alhamdulillah kami dibantu Alloh. kami segera menemukannya setelah sempat mencari di terminal. kami segera menuju kontrakannya. aku kesana bersama sepupuku dan bapak dengan teman sepupuku.

ternyata, sepupuku itu baik sekali orangnya. di depan kami dia terlihat santun. aku benar-benar bisa merasakan sebagai adiknya. rasanya dia benar-benar kakak kandungku. dia memperlakukanku seperti adiknya sendiri. tenang rasanya bersama dia....

keesokan harinya, kami berangkat ke UNY untuk melakukan verifikasi. kami diantar sepupuku dan temannya yang kemarin. setelah tiba disana, aku menunggu teman yang belum pernah aku temui sebelumnya. aku baru mengenal dia melalui sms. dan alhamdulillah alloh membantuku lagi. tidak sulit bagi kami untuk saling menemukan. setelah berkenalan dengan dia dan kakak kelasnya, kami menuju ke auditorium. ternyata disana pengambilan formulir dibedakan sesuai fakultas masing-masing. berhubung temanku itu di FISE (fakultas ilmu sosial dan ekonomi) yang dekat dengan pintu masuk, maka kakak kelasnya mengantarku mengambil formulir di fakultasku yang berada diujung sendiri. kakak kelasnya juga baik dan supel orangnya. alhamdulillah sekali aku selalu dibantuNya. sungguh karuniaNya yang sangat besar...
♥ THANKS FOR READING. DON'T FORGET TO COMMENT .. ♥

Read More..